DIETETIK DASAR
Pengukuran Antropometri pada Nutrition Assesment
Kelompok VI
Chintya Wulandarie NIM PO.62.20.1.12.208
Heny meilisa nim
po.62.20.1.12.216
Rizky dewi fianita nim
po.62.20.1.12.237
Supendi nim
po.62.20.1.12.240
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Antropometri
adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia.Dalam bidang ilmu
gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang seringdigunakan adalah
berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuhlainnya seperti
lingkar lengan atas, lapisan lemak bawah kulit, tinggi lutut,lingkaran perut,
lingkaran pinggul. Ukuran-ukuran antropometri tersebut bisaberdiri sendiri
untuk menentukan status gizi dibanding baku atau berupa indeksdengan
membandingkan ukuran lainnyaseperti BB/U, BB/TB. TB/U (Sandjaja,dkk.,
2010).Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau darisudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan berbagai macampengukuran
dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkatgizi
(Supariasa, dkk., 2001).Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan
dengan dimensitubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok
statistika danukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil
sampaiterbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1
percentilesampai 100 persentil. Data dimensi manusia ini sangat berguna
dalamperancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan
manusiayang memakainya (Nugroho, 2002).Di masyarakat, cara pengukuran status
gizi yang paling sering digunakanadalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam
program gizi masyarakat, pemantauanstatus gizi anak balita menggunakan metode
antropometri,sebagai cara untuk menilai status gizi. Di samping itu pula dalam
kegiatan penapisan status gizimasyarakat selalu menggunakan metode tersebut
(Supariasa, dkk., 2001).Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat kurang,
kemakmuran ternyatadiikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di perkotaan
bergeserdari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat,
sayuran, makanan berserat ke pola makan masyarakat barat yang komposisinya
terlalubanyak mengandung lemak, protein, gula, garam tetapi miskin serat.
Sejalandengan itu setahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka
prevalensikegemukan/obesitas pada sebagian penduduk perkotaan, yang diikuti
pula padaakhir-akhir ini di pedesaan (Asmayuni, 2007).Perhatian utama adalah
mempersiapkan dan meningkatkan kualitas penduduk usia kerja agar benar-benar
memperoleh kesempatan serta turut berperan danmemiliki kemmpuan untuk ikut
dalam upaya pembangunan. Salah satu upayapenting untuk mewujudkan hal tersebut
adalah pembangunan di idang kesehatandan gizi. Antropometri sebagai teknik yang
mula-mula dikembangkan dikalanganantropolog biologis, kini aplikasinya
menyentuh berbagai bidang antara lainkedokteran, olahraga, antropologigizi,
keperawatan, dan pediatric dalam ilmupertumbuhan anak. Antropolog seperti
Tanner, Bogin, Boucher, Malina, danUlijaszek mengembangkan teknik antropometri
yang dihubungkan dengan teoripertumbuhan manusia dari intra-uterine sampai
adolesentia akhir (sekitar 20tahun) (Barasi, 2008).Aplikasi antropometri
sebagai metode bioantropologi ke dalam kedokteranmanjadi bermakna apabila
disertai latar belakang teori yang adekuat tentangpertumbuhan. Berdasarkan
tujuan penelitian pengukuran antropometri, setidak-tidaknya ada lima hal
penting yang mewakili tujuan pengukuran yaitu mengetahuikekern otot, kekekaran
tualng, ukuran tubuh secara umum, panjang tungkai danlengan, serta kandungan
lemak tubuh di ekstremitas dan di torso. Dalampemakaian untuk penilaian status
gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut
umur (BB/U), tinggi badan menurut umur(TB/U) atau berat badan menurut tinggi
badan (BB/TB), lingkar lengan atasmenurut umur (LLA/U) dan sebagainya (Barasi,
2008).Karena antropometri sebagai indikator penilaian status gizi yang
palingmudah yang dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter, antara
lain:umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala,
lingkar dada,lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Oleh karena itu,
untuk mengetahuistatus gizi seseorang, maka dilakukan pengukuran antropometri
ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Antropometri
Istilah anthropometry
berasal dari kata “anthropos (man)” yang berarti manusia dan “metron
(measure)” yang berarti ukuran (Bridger 2003). Berikut adalah beberapa definisi
antropometri dari berbagai sumber:
a.
Antropometri menurut (Nurmianto 1996) adalah suatu kumpulan data numerik yang
berhubungan dengan karakteristik tubuh manusia seperti ukuran, bentuk, dan
kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.
b.
Antropometri terutama berkaitan dengan dimensi stasiun kerja dan pengaturan
alat, peralatan, serta material (Pulat 1997).
c.
Antropometri tidak hanya fokus pada kesesuaian ketinggian tempat kerja, tetapi
juga bagaimana operator dapat dengan mudah mengakses kontrol dan perangkat
input(Helander 2006).
d.
Antropometri merupakan studi dan pengukuran dimensi tubuh manusia (Wickens et
al. 1998).
Ada 3 filosofi
dasar untuk desain yang digunakan oleh ahli-ahli ergonomi sebagai data
antropometri untuk diaplikasikan (Niebel & Freivalds 2002).
a.
Desain untuk Ekstrim, yang berarti bahwa untuk desain tempat atau lingkungan
kerja tertentu seharusnya menggunakan data antropometri individu ekstrim.
Contoh: penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi dari pintu darurat.
b.
Desain untuk penyesuaian, desainer seharusnya merancang dimensi peralatan atau
fasilitas tertentu yang bisa disesuaikan dengan pengguna (users).
Contoh: perancangan kursi mobil yang letaknya bisa digeser maju atau mundur,
dan sudut sandarannya pun bisa diubah.
c.
Desain untuk rata-rata, desainer dapat menggunakan nilai antropometri rata-rata
dalam mendesain dimensi fasilitas tertentu. Contoh: desain fasilitas umum
seperti toilet umum, kursi tunggu, dan lain- lain.
Untuk
mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari suatu ruang dan fasilitas, maka
faktor-faktor seperti panjang dari suatu dimensi tubuh baik dalam posisi statis
maupun dinamis harus diperhatikan. Hal lain yang perlu diamati adalah berat dan
pusat massa (centre of gravity) dari suatu segmen/bagian tubuh, bentuk
tubuh, jarak untuk pergerakan melingkar (angular motion) dari tangan dan
kaki, dan sebagainya.
Selain itu,
harus didapatkan pula data-data yang sesuai dengan tubuh manusia. Pengukuran
tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika diaplikasikan pada data
perseorangan. Namun, semakin banyak jumlah manusia yang diukur dimensi
tubuhnya, maka semakin terlihat besar variasi antara satu tubuh dengan tubuh
lainnya baik secara keseluruhan tubuh maupun persegmennya (Nurmianto, 1996).
Data antropometri yang diperoleh akan
diaplikasikan secara luas dalam hal :
1. Perancangan areal
kerja (work station, interior mobil, dll.).
2. Perancangan
peralatan kerja (perkakas, mesin, dll.).
3. Perancangan
produk-produk konsumtif (pakaian, kursi, meja, dll.).
4. Perancangan
lingkungan kerja fisik.
Ada beberapa prinsip dalam perancangan
area kerja, yaitu:
a.
Menentukan ketinggian permukaan area kerja dengan tinggi siku
b.
Menyesuaikan ketinggian berdasarkan pekerjaan yang dilakukan
c.
Menyediakan kursi yang nyaman untuk operator duduk
d.
Menyediakan kursi yang dapat disesuaikan
e.
Mendorong fleksibilitas postural
f.
Menyediakan tikar anti lelah (antifatigue mats) untuk operator yang berdiri
g.
Meletakkan semua alat dan bahan dalam jangkauan kerja yang normal
h.
Menetapkan lokasi alat dan bahan untuk mendapatkan posisi terbaik
i.
Menggunakan alat pengiriman untuk mengurangi jangkauan dan perpindahan
berulang
j.
Mengatur alat, kontrol, dan komponen lain secara optimal untuk meminimalkan
gerakan.
Antropometri dibagi atas dua bagian,
yaitu:
1) Antropometri statis, di mana pengukuran dilakukan
pada tubuh manusia yang berada dalam posisi diam. Dimensi yang diukur pada
Anthropometri statis diambil secara linier (lurus) dan dilakukan pada permukaan
tubuh. Agar hasil pengukuran representatif, maka pengukuran harus dilakukan
dengan metode tertentu terhadap berbagai individu, dan tubuh harus dalam
keadaan diam.
2) Antropometri dinamis, di mana dimensi tubuh
diukur dalam berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak, sehingga lebih
kompleks dan lebih sulit diukur.
Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis,
yaitu:
a) Pengukuran tingkat ketrampilan sebagai pendekatan
untuk mengerti keadaan mekanis dari suatu aktivitas. Contoh: dalam mempelajari
performa atlet.
b) Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat
kerja. Contoh: Jangkauan dari gerakan
tangan dan kaki efektif saat bekerja yang dilakukan dengan berdiri atau duduk.
c) Pengukuran variabilitas kerja. Contoh: Analisis
kinematika dan kemampuan jari-jari tangan dari seorang juru ketik atau operator
komputer.
A. Faktor
Yang Mempengaruhi Antropometri
Faktor-faktor yang mempengaruhi
variasi dimensi tubuh manusia, diantaranya (Wieckens et al, 2004):
a) Usia
Ukuran tubuh manusia (stature) akan
berkembang dari saat lahir sampai kira-kira berumur 20-25 tahun (Roche &
Davila, 1972; VanCott & Kinkade, 1972) dan mulai menurun setelah usia 35-40
tahun. Bahkan, untuk wanita kemungkinan penyusutannya lebih besar. Sementara
untuk berat dan circumference chest akan berkembang sampai usia 60 tahun.
b) Jenis
Kelamin
Pada
umumnya pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali dada dan
pinggul.
c) Suku Bangsa (Etnis)
dan Ras
Ukuran
tubuh dan proporsi manusia yang berbeda etnis dan ras mempunyai perbedaan yang
signifikan. Orang kulit hitam cenderung mempunyai lengan dan kaki yang lebih
panjang dibandingkan orang kulit putih.
d) Pekerjaan
Aktivitas
kerja sehari-hari juga menyebabkan perbedaan ukuran tubuh manusia. Pemain
basket professional biasanya lebih t inggi dari orang biasa. Pemain balet
biasanya lebih kurus disbanding rata-rata orang. Selain faktor-faktor di atas,
masih ada beberapa kondisi tertentu (khusus) yang dapat mempengaruhi variabilitas
ukuran dimensi tubuh manusia yang juga perlu mendapat perhatian, seperti:
a. Cacat
tubuh.
Data antropometri akan diperlukan
untuk perancangan produk bagi orang- orang cacat.
b. Faktor iklim
Faktor
iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda pula dalam bentuk
rancangan dan spesifikasi pakaian. Artinya, dimensi orang pun akan berbeda
dalam satu tempat dengan tempat yang lain.
c. Kehamilan (pregnancy)
Kondisi
semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran dimensi tubuh (untuk
perempuan) dan tentu saja memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk
yang dirancang bagi segmentasi seperti itu.
Antropometri sangat bermanfaat dalam
dunia industri, namun ada kelebihan dan kekurangan dari penggunaan
antropometri. Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan antropometri.
1. Kelebihan Antropometri
Ada
beberapa kelebihan dari penggunaan pengukuran antropometri, yaitu (scribd.com):
a. Prosedur
yang digunakan sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel cukup besar.
b. Relatif
tidak membutuhkan tenaga ahli.
c. Alat yang digunakan murah, mudah dibawa,
tahan lama, dapat dipesan dandibuat didaerah setempat.
d. Metode
ini tepat dan akurat.
e. Umumnya
dapat mengidentifikasi status buruk, kurang baik danbaik, karenasudah ada
batasan yang jelas.
f.
Dapat digunakan untuk pencegahan kelompok yang rawan terhadap gizi.
2.
Kelemahan
antropometri
Beberapa kelemahan dari penggunaan
pengukuran antropometri, yaitu (scribd.com):
a. Tidak sensitive yaitu
tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat,tidak dapat membedakan
kekurangan zat gizi tertentu, misal Fe dan Zn.
b. Faktor
di luar gizi (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan
spesifikasi dan sensitivitas
pengukuran antropometri.
c. Kesalahan
yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi akurasi, dan validitas
pengukuran.
d. Kesalahan
terjadi karena: pengukuran, perubahan hasil pengukuran(fisik dan komposisi
jaringan), analisis danasumsi yang keliru. Sumber kesalahan biasanya
berhubungan dengan latihan petugas yang tidak cukup, kesalahan alat, kesulitan
pengukuran.
BAB III
KESIMPULAN
1. Antropometri
artinya ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur
dan tingkat gizi.
2.
Pertumbuhan didefinisikan sebagai perkembangan yang progresif mahluk hidup
sejak dari awal sampai menuju kematangan. Pertumbuhan melibatkan suatu seri
perubahan anatomi dan fisiologi. Sel tubuh termasuk sel otak akan mengalami
penambahan jumlah (multiplikasi), dan bertambah ukuran.
3. Pola
perkembangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, fisik dan psikis yang
menimbulkan perbedaan tampilan dari setiap anak. Perkembangan mencakup
rangsangan yang diberikan kepada anak dan umumnya pencapaian
perkembangan optimal tergantung rangsangan (stimuli) dari luar dan
umumnya anak mencapai perkembangan tertentu pada umur yang lebih tinggi. Perkembangan
mengikuti jalur pertumbuhan dan memiliki pola sesuai dengan umur dan taraf
perkembangan.
4. Untuk
mendapatkan data antropometri yang baik harus dilakukan sesuai standar prosedur
pengumpulan data antropometri.
5. Indeks
antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah berat badan
menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB).
DAFTAR
PUSTAKA
Bridger, R.S.,
2003. Introduction to ergonomics, CRC.
Helander, M.,
2006. A guide to human factors and ergonomics, Crc Press.
Niebel, B. & Freivalds, A., 2002. Methods,
standards and work design 11th ed. Recherche, 67, p.02.
Nurmianto, E.,
1996. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi pertama. Cet, 3.
Pulat, B.M., 1997.
Fundamentals of industrial ergonomics, Waveland Press. .
Wickens,
C.D.; Lee J.D.; Liu Y.; Gorden Becker S.E. 2004. An Introduction to Human
Factors Engineering. 2nd Edition.Pearson Education Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar